Nyoman Hadianto ‘s Weblog

Subuah blog pembelajaran yang hendak dipersembahkan untuk siapa saja

Open Book: Untuk Menciptakan Generasi Literat

Posted by nyomanhd on April 12, 2008

BUPATI BENGKALIS, H SYAMSURIZAL
Open Book: Untuk Menciptakan Generasi Literat

Johansyah Syafri

MINGGU terakhir di bulan Agustus dua tahun lalu. Tepatnya di depan stand pameran Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bengkalis. Di sebuah “buku raksasa” berukuran sekitar 3 x 5 meter, dengan huruf warna-warni, Bupati H Syamsurizal menuliskan delapan butir pesan nan bijak. Mengenai arti penting sebuah buku dan manfaat gemar membaca.

Diantaranya pesan yang dituliskan orang nomor satu di kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini, adalah, “Budaya baca hanya bersemi manakala kita secara sadar mengisi waktu (to full time) dengan membaca. Bukan membaca sekedar untuk menghabiskan waktu (to kill time)”.

Kemudian, masih tulis Syamsurizal; “Sebuah ruang tanpa buku adalah ruang tanpa jiwa”, “Tak ada kapal seperti sebuah buku yang mampu membawa kita ke ruang yang lebih jauh”, serta “Pelajar tanpa buku adalah bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah buku, bukan guru. Guru hanya berperan mengarahkan”.

Jauh sebelum pesan itu dituliskan Syamsurizal dalam sebuah cacatan yang bertajuk “Bukuku Kakiku” dan dipamerkan selama seminggu dalam kegiatan Melayu Serumpun di Pantai Pasir Bandar Sri Laksamana pada tahun 2005, hal itu terlebih dahulu sudah diimplementasikannya dalam proses pelajar mengajar di seluruh sekolah di daerah ini.

Tepatnya tahun 2001. Setahun setelah dilantik sebagai Bupati Bengkalis masa jabatan pertama. Pola pembelajaran selama ini dinilai menyebabkan pelajar “takut” dengan buku, oleh Syamsurizal direformasi. Salah satu bentuk perubahan dimaksud, antara lain dalam pelaksanaan ujian di sekolah.

Jika sebelumnya pelajar di daerah ini mengerjakan soal-soal dengan sistem close book (dilarang membuka buku), dengan reformasi yang dilakukan itu, dirubah seratus delapan puluh derajat. Para pelajar, bukan saja dibiarkan, tetapi diberi kesempatan sesuka hati untuk membuka buku apa saja yang berkenaan dengan pertanyaan yang mesti dijawab dalam ujian itu yang mereka bawa ke sekolah.

Sistem baru ini dikenal dengan sebutan sistem open book. “Ada 12 keburukan ujian dengan sistem close book. Diantaranya, anak- anak tidak akrab dan merasa asing dengan buku. Minat minat membaca mereka menjadi rendah, tidak kreatif. Buruknya lagi, dengan sistem lama ini, banyak pelajar yang melakukan tindakan tidak terpuji. Seperti menyontek,” kata Syamsurizal mengenai alasan mengapa perubahan itu dilakukan.

Terlepas dari kejelekan dimaksud, katanya, perubahan itu sebenarnya dilakukan dalam rangka menciptakan generasi literat. “Generasi literat itu merupakan jembatan menuju masyarakat makmur yang kritis dan peduli. Kritis terhadap segala informasi yang diterima sehingga tidak bereaksi secara emosional dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” tambahnya.

Adapun generasi literat yang dimaksud bupati bergelar Sri Mahkota Sempurna Negeri ini, adalah generasi berilmu pengetahuan. “Generasi demikian, akan terbentuk apabila mereka didekatkan, mencintai buku dan gemar membaca. Selain untuk itu, dengan sistem open book ini, kreativitas dan daya berpikir kritis siswa lebih dapat dikembangkan. Sedangkan melalui sistem close book, hal itu sulit terbentuk,” kata kepada sejumlah wartawan di kediaman resmi Bupati Bengkalis, Wisma Daerah Sri Mahkota, beberapa waktu lalu.

Dan, karena untuk membentuk generasi literat ini meski dimulai sejak dini, sistem ini pun diberlakukan di semua tingkatan. Mulai dari SD sampai SMA. “Generasi literat itu akan cepat terbentuk, jika sejak SD, anak-anak sudah dibiasakan dengan tugas membaca dan membuat jurnal atau laporan mengenai apa yang dibacanya itu,” sambungnya, sembari menambahkan bahwa kebijakan ini juga berdampak dan menjadi motivasi tersendiri bagi para guru untuk lebih banyak membaca agar tidak “kalah” dari siswanya.

Dengan laporan yang dibuat itu, ungkap Syamsurizal, mereka memiliki kebebasan untuk mengekspresikan pendapat tentang buku yang mereka baca. “Dampaknya, daya nalar dan kritis anak-anak yang merupakan awal lahirnya generasi literat, meningkat. bila dilakukan dengan benar, daya kritis seseorang bisa berdampak positif terhadap kemajuan masyarakat,” papar Syamsurizal.

Sedikit mengenang, Syamsurizal bercerita, bahwa saat reformasi pola pembelajaran ini dilakukan, dengan berbagai alasan, banyak pihak yang menentangnya. Namun bagai sebuah ungkapan lama; “Anjing menggonggong kafilah berlalu”. Karena yakin apa yang dilakukannya itu benar, sedikit pun hal itu tak digubrisnya.

Syamsurizal tak surut ke belakang, tetap jalan terus. Salah satu persoalan yang dijadikan dalih mereka yang tidak setuju dengan reformasi yang dilakukannya tersebut pada waktu itu, kenang Syamsurizal, mereka takut hasil ujian yang peroleh para pelajar di Bengkalis akan turun. Terutama ketika menghadapi evaluasi belajar yang dilaksanakan secara nasional.

Misalnya, ketika mengikuti ujian nasional yang masih menggunakan sistem close book. Atau ketika mereka melanjutkan pendidikan (misalnya dari SD ke SMP atau dari SMP ke SMA) di tempat lain yang ujiannya tetap menggunakan sistem yang tidak sama dengan di Bengkalis yang telah direformasi itu.

Namun, ketakutan mereka kala itu (kalau boleh dikatakan demikian) sejalan dengan perjalanan perubahan sistem yang dilakukan dan ekternalitas positif yang ditimbulkan terhadap pola belajar para pelajar di daerah ini, ketakutan dimaksud kian hari semakin sirna. Malah sebaliknya, meskipun tidak secara terbuka, mereka justru mengakui kebenaran apa yang dilakukan Syamsurizal itu.

“Lho, yang ingin dibangun melalui perubahan ini adalah supaya pelajar menjadikan membaca sebagai sebuah kebutuhan. Bila seorang pelajar sudah gemar dan banyak yang dibaca, pengetahuannya pasti bertambah. Kalau sudah demikian, dengan cara apapun ujian dilaksanakan, tidak menjadi persoalan. Hal inilah waktu itu belum mereka pahami secara baik dan benar,” jelasnya.

Lalu, benarkah apa yang dilakukan Syamsurizal itu demikian? Sejauh ini memang belum ada penelitian tentang dampak dari perubahan tersebut terhadap peningkatan minat baca pelajar di Kabupaten Bengkalis.

Namun, demikian, seperti dituturkan Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Bengkalis, R Simarmata, sejak sistem open book itu diberlakukan, pengunjung perpustakaan meningkat drastis. “Rata-rata sekitar 30 persen. Peningkatan ini lebih besar lagi kalau ada koleksi buku baru. Dan, umumnya yang datang ke perpustakaan adalah para pelajar, baik itu SD, SMP maupun SMA. Peningkatan ini bukan hanya di perpustakaan kabupaten, tapi juga di perpustakaan kecamatan,” jelas Simarmata.

Masih menurut Simamarta, saat ini perpustakaan kabupaten di Jalan Hang Tuah yang kini dipimpinnya itu, memiliki koleksi buku sekitar 11.000 eksamplar. Jumlah ini di luar koleksi buku yang dipunyai perpustakaan yang ada di kecamatan-kecamatan.

Untuk mendukung perubahan sistem yang dilakukan Syamsurizal itu (di luar pengadaan buku gratis oleh Disdikpora) maka sejak tahun 2002 Pemkab Bengkalis melalui kantor yang dipimpinnya, kata Simarmata, setiap tahunnya membangun satu perpustakaan di kecamata-kecamatan. Begitu juga dengan penambahan koleksi buku.

Tiap tahun terus ditambah. “Sekarang ini, dari 13 kecamatan yang ada di daerah ini, hanya dua yang belum memiliki perpustakaan. Yaitu Kecamatan Rupat Utara dan Tebing Tinggi Barat. Untuk dua kecamatan ini, pembangunannya pada tahun 2007 ini. Saat ini rata-rata koleksi buku di masing- masing perpustakaan kecamatan yang sudah ada, antara 4.000-5.000 eksemplar,” katanya.

Tak hanya itu, Simarmata mengungkapkan pula dampak positif lainnya. Katanya, di perpustakan kabupaten ini, sebelum sistem open book ini diberlakukan di Bengkalis, setiap harinya yang lebih banyak itu pegawainya dibandingkan jumlah pengunjungnya. Namun kini, sebaliknya. Keberadaannya sudah tidak refresentatif lagi.

Untuk itu, selain tetap bakal menambah koleksi buku yang memang menjadi program rutin tahunnya, khususnya buku-buku terbitan terbaru, pada tahun anggaran 2008 mendatang, kata Simarmata, pihaknya juga akan mengusulkan alokasi anggaran buat pembangunan gedung perpustakaan kabupaten yang baru. Gedung lebih refrentatif.

“Mudah-mudahan rencana pembangunan itu dapat direalisasikan,” ujar tokoh masyarakat Bengkalis asal Sumatera Utara ini. Tentunya, hal itu disampaikannya dengan nada sangat berharap. Akan tetapi, Simarmata belum bersedia menyebutkan, dimana nantinya lokasi perpustakaan yang juga amat diharapkan masyarakat (terutama para pelajar) dapat dibangun Pemkab Bengkalis tahun 2008 mendatang.

“Perpustakaan yang ada sekarang memang sudah tidak refresentatif lagi,” jelas Rima Andriani, siswi kelas 2 IPA 4 SMA Negeri 1 Bengkalis. Ketika ditemui, siswi berlesung pipi yang mengaku tinggal di Gang Al-Kautsar Jalan Pembangunan I Desa Kelapapati ini, bersama beberapa orang temannya, hendak beranjak meninggalkan perpustakaan usai meminjam sejumlah buku buat menyelesaikan tugas dari sekolah. “Untuk buat makalah kelompok,” Rima sambil tersenyum manis, menjelaskan tugas dimaksud.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: