Nyoman Hadianto ‘s Weblog

Subuah blog pembelajaran yang hendak dipersembahkan untuk siapa saja

Profesi Pendidik

Posted by nyomanhd on April 10, 2008

Profesi Pendidik Masih Sering Dilecehkan

Jakarta, Sinar Harapan
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) M. Surya, Kamis (25/11), mengatakan bahwa standardisasi guru di Indonesia memang sudah saatnya dilakukan, menilik hingga sekarang perbedaan kualitas, tingkat pendidikan, dan kesejahteraan guru di Indonesia masih sangat besar. Meski demikian, Surya mengatakan bahwa standardisasi itu harus dilakukan secara hati-hati dan berkesinambungan dalam jangka panjang.

Sementara itu, pakar pendidikan Universitas Tanjungpura, Chairil Efendi, kepada SH, Kamis (25/11), menilai profesi pendidik belum memperoleh penghargaan yang memadai. Indikasi kurangnya penghargaan tersebut dapat dilihat dari tayangan sinetron dan film di berbagai stasiun televisi yang lebih banyak melecehkan profesi pendidik.
Ia menyebutkan, dalam tayangan sinetron, tidak jarang peserta didik seenaknya saja melakukan aktivitas yang tidak beretika di ruang kelas, ketika pendidik menyajikan materi pelajaran.
Ada pula adegan yang memperlihatkan seorang pendidik perempuan terpaksa menangis di ruang kelas, lantaran sudah tidak mampu lagi mengendalikan peserta didiknya selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung.
Aktor yang berperan sebagai pendidik, lanjut Chairil, dalam ekspresinya ternyata kebanyakan tidak mampu menunjukkan figur pendidik yang sesungguhnya di tengah peserta didik, baik dari segi penampilan fisik maupun dalam bertutur-kata.
”Kalau adegan seperti ini dipertontonkan terus-menerus di hadapan pemirsa televisi, tingkat penghargaan masyarakat terhadap kaum pendidik akan terus memudar. Dampak lebih jauh, pendidikan di Indonesia akan kehilangan arah dalam membentuk kepribadian peserta didik,” kata Chairil.
Chairil mengatakan sinetron Indonesia sudah terlalu lama terjebak di dalam paradigma materialistik. Ini mengakibatkan hilangnya norma dan etika sehingga tidak ada lagi ruang gerak yang bisa memberikan penghargaan secara proforsional terhadap profesi pendidik di hadapan masyarakat.
”Gaya bertutur sinetron belum mampu menunjukkan kepribadian bangsa sesungguhnya dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ekspresi bertutur lebih banyak mengekspresikan bahasa prokem yang dalam takaran tertentu bisa merusak visi dan misi berbahasa Indonesia,” kata Chairil.
Chairil mengingatkan para produser dan penulis naskah sinetron supaya lebih mengutamakan kepentingan pembangunan karakter bangsa dalam menyusun keseluruhan adegan yang akan ditayangkan. Kendati kebebasan berekspresi tetap ditunjung tinggi, etika dalam berperilaku tetap ada, supaya kepribadian bangsa tetap terjaga.

Masih Berantakan
Ketua PGRI mengakui bila kualitas guru di Indonesia masih belum memadai. Kondisi guru di Indonesia saat ini bahkan masih berantakan.
Dari sisi status saja, ujarnya, saat ini masih ada guru pegawai negeri sipil dan ada juga guru honorer. Guru honorer pun ada yang honor daerah, honor yayasan, dan ada juga yang honor sekolah, katanya.
Berkaitan dengan kondisi guru saat ini, dalam rangka Hari Guru 25 November 2004, pemerintah harus membenahi kualitas guru. Ia juga mengungkapkan masih adanya kekurangan tenaga guru di daerah-daerah terpencil.
Saat ini, jumlah guru di Indonesia hanya 2,1 juta. Kurangnya tenaga guru itu terjadi karena kesejahteraan guru masih amat rendah.
Guru seolah menjadi pekerjaan buangan sehingga banyak lulusan perguruan tinggi Indonesia yang tidak bersedia bekerja menjadi guru, apalagi jika ditempatkan di daerah terpencil, katanya.
Karena itu, standar kualitas guru harus dilakukan secara bijaksana. Sebagai contoh, untuk para guru yang belum memenuhi syarat tingkat pendidikan, pemerintah diminta memberikan pendidikan dalam jabatan sehingga guru-guru itu bisa tetap bertugas sambil meneruskan sekolah.
”Jadi ada pendidikan pra-jabatan, tetapi ada juga pendidikan dalam jabatan. Harus diingat, standardisasi itu tidak lantas berarti langsung menyapu bersih para guru yang tidak memenuhi standar. Kalau itu dilakukan, kita akan semakin kekurangan tenaga guru,” ujarnya.
Standardisasi guru merupakan salah satu bagian dari rencana Depdiknas untuk membenahi masalah guru. Mendiknas Bambang Sudibyo sebelumnya mengatakan seseorang yang hendak bekerja menjadi guru juga diharuskan mengikuti sertifikasi terlebih dulu sehingga ia layak menjalankan profesi tersebut.
Dalam materi pembekalan terhadap guru, tercakup juga soal etika dan estetika, agar ia mampu menjadi teladan dalam hal etika, estetika, dan kepribadian pada anak didiknya. Selain itu, guru harus dipandang sebagai suatu profesi yang memerlukan pendidikan tinggi, bersifat khusus, dan melakukan pelayanan publik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: